Sebuah Rasa

        
            Beberapa waktu terakhir kita sering mendengar kata “baper”. Baper bukan sejenis nama makanan ya, ^^. Bawa Perasaan yang biasa disingkat baper begitu melekat pada mereka yang notabenenya anak muda, dan pastinya yang masih jofisa, jombo fii sabilillah, J, mereka yang masih sendiri pasti selalu kena dengan kata ini.
Baper biasa disematkan jika kita terbawa perasaan, tentang sebuah rasa bernama cinta tentu saja, tapi kalau dipikir-pikir baper tidak hanya tentang cinta. Perasaan bisa meliputi banyak macam, perasaan marah, benci, kasih sayang, empati dan lain sejenisnya. Bayangkan jika seorang guru tak baper, melihat murid yang belum paham akan pelajaran bisa-bisa hanya dibiarkan saja, tapi kalau guru itu baper, tentu ia akan berusaha membantu murid tersebut agar bisa memahami pelajaran tersebut, karna guru tersebut baper kasih sayang kepada muridnya.
Kembali ke pembahasan awal tentang bapernya anak muda. Serangan baper ini bisa melanda siapa saja, baik mereka kalangan awam akan agama bahkan aktivis atau mereka yang sudah paham akan agama sekali pun, biasanya disebut  ikhwan akhwat. Dan bukan rahasia umum lagi yang sering terserang penyakit baper ini adalah kaum para akhwat.
Meski tidak semua akhwat itu baperan namun sebagian besar adalah baperan. Akhwat yang sudah paham etika pergaulan dalam Islam, InsyaAllah akan berusaha mengendalikan hati dan pikirannya disaat dirinya terserang baper, berat dan tak semudah yang diucapkan memang.
Dan yang sering membuat gemas dan sebal adalah, ikhwan yang terkadang seperti memberi harapan namun tak ada aksi nyata. Ikhwan yang sering memberikan perhatian entah lewat ucapan maupun perbuatan, baik secara langsung maupun via media komunikasi, lewat Hp misalkan. Mengajak chatting atau menanyakan sesuatu yang tidak terlalu mendesak. Akhwat yang baik InsyaAllah selalu berhusnudzan bahwa mungkin si ikhwan memang tipe yang perhatian dan peduli pada sesama dan tentu saja mencoba untuk tidak baper. Namun, jika itu diberikan berulang-ulang pasti akan menimbulkan prasangka lain, yang akhirnya lama-lama membuat baper dan ge er.
Sampai sini, juga menimbulkan beberapa pertanyaan, ini akhwat yang baper atau ikhwan yang tebar pesona? Terkadang keduanya cukup sulit dibedakan.
Intinya, untuk para akhwat (termasuk penulis), bismillah, jangan mudah baper jika ada ikhwan seperti di atas, terus berprasangka baik dan tidak usah terlalu dihiraukan jika tak mendesak atau penting, Allah pasti sudah menyiapkan rencana terbaik-Nya. Dan untuk para ikhwan, jangan mudah menebar perhatian dan peduli pada akhwat terutama akhwat yang masih single, karna bisa jadi karna perhatian mu itu membuat pertahanan hati mereka goyah bahkan mungkin hancur luluh lantak, ingat, perempuan itu memang ditakdirkan mengedepankan perasaan daripada logika, jadi berhati-hatilah dalam berinteraksi dengannya, salah-salah malah disalah artikan kepedulianmu itu.





0 Response to "Sebuah Rasa"

Posting Komentar